I'm a Lemurian. We have highly advanced technology. I'm proud to be a Lemurian. Let's rise up towards a better country. with the lower ego, understanding others. Samprazan

5 kebudayaan Asli Indonesia Yang Mulai Punah


 Inilah 5 kebudayaan Asli Indonesia Yang Mulai Punah


1. Cium Tangan Pada Orang Tua

Biasanya sih dibilang “salim“, bila di semasa saya hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya hal ini penting loh, selain menanamkan rasa cinta kita sama ortu, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita sama mereka, sudahkah kalian mencium tangan orang tua hari ini?
 
2. Penggunaan tangan kanan
Bila di luar negeri sih, saya rasa gak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan. (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir).

3. Senyum dan Sapa
Ini sih Indonesia banget! Dulu citra bangsa kita identik dengan ramah tamah dan murah senyum. So, jangan sampai hilang, ya! Ga ada ruginya juga kita ngelakuin hal ini, toh juga bermanfaat bagi kita sendiri. Karena senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban dengan sekitar kita.
 
4. Musyawarah
Satu lagi budaya yang udah jarang ditemuin khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, ga ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.

Dan budaya yang terakhir,..
5. Gotong Royong
Itu bukan urusan gue!“, “emang gue pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Hayoolah kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu seksama, karena dengan kebiasaann seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, ga ada tuh perasaan curiga, dan dulu persatuan kita kuat.
 

Sumber :
http://forum.kompas.com/nasional/57691-5-kebudayaan-indonesia-yang-mulai-hilang.html
http://www.ikadanewsonline.com/2011/12/inilah-5-kebudayaan-asli-indonesia-yang.html

Misteri Piramida kebudayaan Atlantis di Jawa


Rakryan Vadia Andika nama seorang penulis yang hidup semasa berdirinya Majapahit hingga mencapai puncak keemasaannya era Prabu Hayam Wuruk. Sepagi itu tidak sebagaimana biasanya terus-menerus tiada henti menulis tembangnya di atas rontal. Begawan itu hidup bersama seorang putrinya yang masih remaja menurut ukuran masa itu. Hari ini pertama bulan kelima 1316 Saka atau 1394 Masehi. Musim hujan telah reda yang ditandai berseminya tanaman palawija di kebun belakang rumah di tepi kotaraja Majapahit itu.
      "Ayahanda, tegal yang berada di depan rumah itu sebaiknya ditanami apa?" tanya Dewi Anggia, putri sang begawan itu tampaknya sudah selesai membersihkan diri setelah mengontrol kebun belakang rumah yang dikerjakan oleh seorang petani upahan.
      "Ubi jalar lebih baik ditanam lagi di kebun depan itu, ananda, sekaligus memperindah pemandangan di halaman," sahut sang ayahanda, sambil tersenyum mengagumi kecantikan putrinya yang mirip sekali dengan ibunya. Gadis itu bertulang pipi tinggi, matanya lebar, dan berhidung keturunan brahmana.
      Dewi Anggia seperti biasanya tiap hari menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut lelaki sepuh berusia lebih satu abad itu.
      "Ananda ingin mengetahui piramida yang dirahasiakan itu?" Ra Vadia memulai, dan tanpa menunggu jawaban sang putri, ia meneruskan, "Jayabaya raja Kediri itu mengatakan ada periode manusia pertama yang mengisi dan mendiami pulau Jawa. Periode manusia pertama yang menghuni pulau Jawa itu terjadi pada empat ribu dua ratus sebelum tahun Saka. Masa yang penuh misteri itu tentunya diketahui sang raja Jayabaya karena tidak jauh dari wilayah Kediri terdapat sebuah bukit yang misterius Gunung Klothok. Dan gunung atau bukit Klothok itu tentu paling dekat dengan kehidupan Jayabaya."
      "Siapa menurut Jayabaya yang hidup empat ribu dua ratus tahun sebelum Saka itu, ayahanda?" tanya Dewi Anggia penuh keingintahuan.
      Ra Vadia tercenung sejenak. "Orang Majapahit menamainya manusia Atlantis, manusia yang telah mencapai kemajuan dalam kehidupan spiritual dan telah berhasil menguasai teknologi melalui kekuatan daya pikiran mereka."
      "Mereka meninggalkan bukti atau sesuatu apapun, ayahanda?"
      "Ya, peninggalan mereka yang tersisa hanya terdapat di gunung, selain yang di gunung telah lenyap semua pada waktu bencana dahsyat itu memusnahkan kehidupan mereka, dan Jayabaya memprediksi gunung Klothok yang memiliki lima puncak itu menyimpan sesuatu berupa peninggalan manusia yang pertama mengisi pulau Jawa, manusia Atlantis itu."
      "Ayahanda dapat menggambarkan Gunung Klothok itu, yang mungkin menyimpan peninggalan manusia Atlantis?"
      "Puncak Klothok berada di tengah, dan di punggung daripada puncak tertinggi itulah merupakan sumber air utama yang mengalir ke Barat, melalui Tretes. Aliran air yang mengarah ke Selatan bermuara ke Sumber Loh. Sedangkan yang mengarah ke Timur bermuara ke mata air di dekat goa Selabale. Jika sedang berada di puncak Klothok jika mata di arahkan ke Utara maka akan terdapat satu puncak lagi yang untuk menuju ke puncak utara itu terlalu curam. Begitu pula puncak di sebelah Selatan terlalu terjal untuk dicapai dari puncak utama. Sebelah Barat puncak utama Gunung Klothok terdapat satu puncak yang agak rendah, dan hanya bisa didaki dari utara di wilayah Kaligayam. Lembah dan jurang membatasi puncak sebelah Barat dan Puncak tertinggi di bagian tengah.
      Satu-satunya dari kelima puncak Gunung Klothok yang terpisah dan tidak terlalu curam ialah Gunung Emas Kumambang yang sebenarnya masih termasuk bagian dari Gunung Klothok itu sendiri, oleh karena ia berada di barisan terdepan dan seolah berdiri sendiri maka ia mendapat nama tersendiri Emas Kumambang." Begawan itu terdiam, ia memandang keluar rumah dari jendela yang terbuka lebar-lebar. Dewi Anggia menunggu kelanjutan cerita ayahandanya. Ia penasaran seperti apa peninggalan orang-orang Atlantis itu? Sama seperti peninggalan Kerajaan Kediri yakni candi Penataran yang dibangun pada abad keduabelas Masehi itu?
      "Orang Atlantis itu menggunakan kekuatan pikiran dalam memindahkan potongan gunung yang selanjutnya disusun menjadi bukit batu buatan. Mereka menciptakan bangunan itu tentu dengan tujuan tertentu, mungkin sebagai semacam landasan terbang, atau tempat pemujaan. Mereka menciptakan bangunan itu dengan penuh daya upaya agar mirip dengan buatan alam, oleh karena itu kemajuan teknologinya seperti sengaja meniru bentuk alamiah dan juga seolah-oleh membuat kamuflase atau meniru alam."
      "Ayahanda, apakah hasil karya mereka selalu disembunyikan agar tidak ditemukan orang dari masa depan?" tanya Dewi Anggia.
      "Tidak, ananda. Oleh karena mereka menggunakan teknologi kekuatan pikiran yang bersifat alamiah, maka hasil karya mereka, piramida batu itu, sangat tidak kentara buatan manusia, akan tetapi bangunan itu  persis seperti alam sendiri yang membuatnya."
      "Jadi sangat sulit untuk ditemukan, begitu Ayahanda?"
      Rakryan Vadia mengangguk, sang putri merasa telah bertambah satu lagi pengetahuannya mengenai sebuah masa silam yang sangat dirahasiakan oleh alam, bahkan itu pun tanpa disengaja atau disadari oleh para pelakunya sendiri, manusia Atlantis Jawa itu.

By : AI

PENEMUAN PIRAMID: GELIAT MELAWAN KONSPIRASI DUNIA


PENEMUAN PIRAMID: GELIAT MELAWAN KONSPIRASI DUNIA
Oleh: Wilman Ramdani

-Di Posting oleh: KDM

Belajar dari sejarah pemikiran filsaafat yang selalu menjadi dasar pergerakan kehidupan, ternyata (faktanya) konsep apa pun penerapannya sangat jauh secara adil dan sejahtera, karena pada akhirnya memunculkan sebuah "dominasi" atau "hegemoni" yang terpusat pada satu bahasa yaitu "konspirasi". Namun teori konspirasi bagi sebagian ilmuwan luar dan sebagian ilmuwan kita yang belajar dari luar tidak mempercayai "teori konspirasi" terhadap bangsa ini.

Pernah salah satu teman lulusan pascasarjana universitas di AS mengatakan ketidakpercayaannya terhadap "teori konspirasi" yang menurutnya itu hanya sebagai alasan sebagian bangsa kita mencari kambing hitam. Penulis "rada" tidak sepakat dengan pernyataan seorang teman tsb, karena penulis melihat "konspirasi" tsb sudah bukan lagi "teori", akan tetapi sudah merupakan sebuah "praktek" dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan terkadang efek dari "praktek-praktek" tsb sudah dianggap sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Hal ini dapat dikatakan bahwa ketidak percayaan pada "konspirasi" karena suasana kehidupan sekarang adalah hasil dari "produk-produk" konspirasi yang sudah establish, atau sudah status quo, karena ada juga sebagian masyarakat yang "enak" dan "nyaman" dengan suasana "established conspirated" ini.
Penulis ambil contoh misalnya sebagian masyarakat akademis Indonesia sekarang cenderung menerima "sejarah" awal kehidupan manusia bermula pada 5000 SM sebagai sebuah pengetahuan yang established. Padahal tidak diketahui juga secara jelas pada peradaban siapa "awal" kehidupan dunia, apakah pada peradaban SUMERIA, atau BABILONIA, atau MESIR KUNO? Sedangkan di bumi Indonesia ini ditemukan MAN MADE STRUCTURE di Gn. Padang Cianjur yang usianya kurang lebih 10.000 SM. Pertanyaannya, peradaban siapakah ini? Pada masa siapakah Gn. Padang Cianjur dibuat? Masa Nabi siapakah ini dibangun?

Sebagian kalangan akademis Indonesia menolak kalau peradaban sebelum 5000 SM sudah maju. Fakta berkata lain, ternyata pada tahun 10.000 SM sudah ada peradaban canggih di bumi Indonesia ini. Namun tetap, sebagian kalangan akademis menolak, karena memang dalam referensi dan kesejarahan mereka terbentur pada bahan bacaan yang hanya menceritakan 5000 SM.
Pembentukan pengetahuan yang mempercayai sejarah peradaban dimulai hanya dari 5000 SM merupakan struktur dan pondasi filsafat yang "linkage" antara sistem pengetahuan awal dengan fakta yang "direkayasa", agar terjadi penguatan argumentasi antara satu dengan yang lain, sehingga tidak heran kemudian muncul teori Darwin yang memperkuat teori awal sejarah manusia tersebut.
Hasilnya adalah, pengetahuan established dari sebuah "konspirasi" yang dilakukan bertahun-tahun, struktural, masuk ke alam bawah sadar Bangsa ini, menolak adanya penemuan MAN MADE STRUCTURE di Gn. Padang. "Konspirasi" tersebut sampai sekarang mengakar cukup kuat yang akhirnya berimbas pada penolakan LSM-LSM lokal yang tidak mau adanya intervensi pemerintah pusat atau daerah dalam riset dan eskavasi Gn. Padang karena selalu tidak pernah "kelar".
Belajar Dari Candi JIWA Karawang
Sebagai sebuah analogi, LSM-LSM lokal atau seniman-seniman, tokoh adat dan masyarakat mencoba menangkap fenomena penemuan MAN MADE STRUCTURE di Gn. Padang agar jangan seperti kejadian seperti Taman Nasional Cibodas yang akhirnya "dikerjasamakan" -kalau tidak dikatakan digadaikan- dengan JICA, atau geothermal yang dikerjasamakan dengan asing. Mereka secara sadar ataupun tidak telah berupaya melawan "kekuatan" konspirasi dunia yang selalu tidak pernah menguntungkan Bangsa Indonesia. Serbuan-serbuan asing mulai dari negeri Cina, Korea, Eropa, AS terus berdatangan melakukan "intervensi" pada semua struktur ilmu pengetahuan Bangsa Indonesia.
Sebenarnya, penolakan LSM-LSM lokal seperti WALHI, GENERASI PASUNDAN (GEMPAS), bahkan Tokoh-tokoh Adat Sunda dapat dimengerti, juga seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Pusat maupun Daerah, bahwa rakyat sudah bosan dengan "campur tangan asing". "Jangan sampai Gn. Padang diserahkan penelitiannya kepada institusi asing atau PBB seperti UNESCO," tegas Eko Wiwid koordinator Walhi daerah ketika diskusi dengan Tim Katastropik Purba yang dipimpin Andi Arief dalam melakukan riset di Gn. Padang Cianjur.
Penulis melihat Tim Katastropik Purba cukup mengerti perasaan dan jiwa masyarakat Cianjur dan Jawa Barat khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya.Atau jika boleh dianalogikan kembali, berkaca pada Candi JIWA yang pekerjaannya “diserahkan” atau “bekerjasama”dengan institusi asing dan PBB, yang hingga saat ini belum juga mendapatkan perkembangan yang berarti. Candi JIWA yang berada di Kabupaten Karawang Jawa Barat berada dalam kondisi memprihatinkan.
Tim Katastropik Purba kemudian meneliti adanya keterkaitan Candi JIWA dengan bencana katastropik purba, Tim menduga bahwa Candi JIWA yang ditemukan tahun 1984 ini lebih luas dibanding Candi Borobudur. Namun mirisnya, penulis melihat sampai saat ini riset Candi JIWA di Batujaya Karawang tersebut terbengkalai. Bahkan masyarakat ataupun media sama sekali tidak diberitahu kemajuan-kemajuan atau progresifitas hasil riset tersebut. Selain itu, ada indikasi penelitian tersebut dilakukan cenderung tertutup dan tidak transparan.
Penulis berhusnuzhan, jika Candi JIWA tersebut belum selesai –kalaupun tidak mau dikatakan terbengkalai, mungkin “interpretasi” terhadap candi tersebut tidak tuntas, akibatnya “ada keterputusan interpretasi”, sehingga akhirnya stagnan. Keterputusan “interpretasi” sejarah tadi jika ditarik benang merah pada praktek-praktek konspirasi menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Misalnya, ketika mencoba melakukan “interpretasi” terhadap temuan Candi JIWA, karena referensi pengetahuan yang terbentuk dalam ruang epsitemologi pra sejarah dan sejarah mulai tahun 5000 SM, maka akan sulit mengambil kongklusi jika batuan di situ (misalnya) lebih dari 10.000 SM. Pembentukan ruang epsitemologi pra sejarah dan sejarah tadi, adalah praktek konspirasi yang dibangun secara tidak sadar menjadi sebuah kebenaran yang establish, yang pakem.
Pemanfaatan Ancient Teknologi
Penyingkapan yang dilakukan oleh Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang ini “datang” dari berbagai lintas ilmu, mulai dari arkeologi, geologi astronomi, budaya sampai kearifan lokal. Penulis melihat penelitian ini juga berhasil membuktikan sinergitas yang akhirnya menghasilkan riset terpadu kelas dunia. Tim ini bukan saja memberikan sumbangsih kepada dunia, mengenai satu sejarah baru, artefak baru, atau bukti baru tentang peradaban dunia yang begitu hebat dan tua, tapi tim ini juga memberikan sejarah baru untuk Indonesia.
Ada satu hal yang sangat penting dalam pengungkapan situs-situs tersebut, baik di Indonesia maupun di dunia, adalah sulitnya mengambil “pelajaran” atau “ilmu” dari situs-situs yang sudah mengalami penelitian. Ruang ini seakan-akan dipendat yang akhirnya hanya dijadikan “tontonan”, “kebanggan”, atau maksimal menjadi “tempat pariwisata” yang tersirat menjelaskan kedigdayaan dan kemodernan masa lalu. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi, karena jika demikian, tidak ada bedanya dengan penemuan Piramid Saqoro di Mesir atau Machu Pichu di Amerika Latin yang hanya dijadikan sebagai “kebanggan” dan “tontonan”. 
Penemuan Gn. Padang Cianjur ini berbeda dengan kasus-kasus piramida yang ditemukan di Mesir dan di Amerika Latin, karena seperti yang dikatakan penulis tadi, mungkin mereka mengalami kesulitan “interpretasi” dalam memetakan sejarah piramidanya sendiri, sehingga terjadi “kesalahan” interpretasi yang akhirnya kesimpulannya jauh dari fakta yang sebenarnya.
Bangsa Indonesia harus mampu keluar dari “kungkungan” epsitemologi pengetahuan yang selama ini membentuk stagnasi ilmu pengetahuan sendiri. Jika memang ada asumsi atau bahkan keyakinan menganggap jaman dulu itu hebat, modern, dan begitu canggih, tentu penelitian Gn. Padang ini akhirnya tidak berhenti sampai “tontonan” atau “kebanggan” saja. Justru pesan-pesan yang ada di situs tersebut (sekarang atau ke depan) harus terus dikaji dan dipraktekan bagi kemaslahatan masyarakat.
Alhasil, dari tulisan di atas, penulis sebenarnya hanya mengingatkan bahwa ternyata secara tidak sadar, penemuan situs Gn Padang Cianjur ini adalah fakta Bangsa Indonesia mencoba “melawan” dan “keluar” dari konspirasi pengetahuan yang selama ini mengungkung ruang gerak pemikiran. Mudah-mudahan dengan terungkapnya Gn. Padang ini dapat mengungkap kesadaran dan semangat untuk membangun masyarakat Nusantara dan dunia yang adil dan sejahtera.

Fakta Ilmiah Adanya Sejarah Perang MAHABARATA (perang nuklir era pra sejarah)


# Epos Mahabarata
Kisah ini menceritakan konflik hebat keturunan Pandu dan Dristarasta dalam memperebutkan takhta kerajaan. Menurut sumber yang saya dapatkan, epos ini ditulis pada tahun 1500 SM. Namun fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya. Artinya peristiwa yang dicatat dalam buku ini diperkirakan terjadi pada masa ±5000 tahun yang silam.

Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya.

Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir! Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh. seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, dan kekuatannya sangat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus..wuuus.. disertai dengan debu pasir. Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.

Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 antara Rama dan Rahwana lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke ketiga kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!

Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir? Sedangkan masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa prasejarah dimana peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia tidak ditemukan kemajuan semacam ini?

Namun selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.

Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.

# Penelusuran fakta ilmiah
Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM.

Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).

Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?

Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Beberapa waktu belakangan banyak hasil penelitian yang mengejutkan. Dan dari berbagai sumber yang telah saya pelajari, secara umum penggambaran melalui berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini telah pula memberikan beberapa bahan kajian yang menarik, antara lain adalah:

Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini teryata telah terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian maju namun akhirnya menuju pada sebuah kebinasaan? Dan penyebab kebinasaan itu adalah tiada lain akibat peperangan yang pernah terjadi.

Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30.000-15.000 SM). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).

Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.

Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir (Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir di bawah ini) dan Amerika Selatan.

 
Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir

Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan didalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Bukti ilmiah peradaban Veda. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diungkapkan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan juga penganut weda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun.

Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti ; Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution: A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Dari buku-buku tersebut juga ditemukan adanya manipulasi beberapa arkeolog dengan mengubah dimensi waktunya, hal ini bertujuan untuk mendukung teori evolusi Darwin, karena kenyataannya teori evolusi masih sangat lemah. Bukti ilmiah sudah dengan jelas menyatakan bahwa peradaban weda telah ada miliaran tahun. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa perang besar di tanah suci Kukrksetra, kota Dwaraka, sungai suci Sarasvati dan sebagainya merupakan suatu peristiwa sejarah, bukan sebagai mitologi. Setiap kali kongres para arkeolog dunia selalu menyampaikan bukti-bukti baru tentang peradaban Barthavarsa purba. Dibawah ini ditampilkan sekelumit dari bukti ilmiah tersebut.

Sebenarnya masih banyak bukti ilmiah lainnya yang menunjukkan peradaban weda tersebut, sehingga Satya yuga, Tretha yuga, Dvapara yuga dan Kali yuga dengan durasi sekitar 4.320.000 tahun merupakan suatu sejarah peradaban manusia modern yang memegang teguh perinsip dharma.

Perang Bharatayuda. Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin menentukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

* Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM
* Bhishma pulang ke dunia rohani sekitar 17 Januari 3066 SM
* Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM
* Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM
* Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM.

Dan banyak lagi penanggalan peristiwa-peristiwa penting sudah di kalkulasi.

* Kota kuno Dvaraka. Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

* Sungai Sarasvati. Keberadaan kota purba Harrapa dan Mohenjodaro serta keberadaan sungai suci Sarasvati telah dijumpai dalam Rig Weda, namun tidak diketahui keberadaannya, kemudian oleh NASA dengan pemotretan dari luar angkasa ternyata dijumpai sebuah lembah yang merupakan bekas sungai yang telah mengering, namun dalam kedalaman tertentu masih tampak ada aliran air di wilayah Pakistan yang bermuara ke lautan Arab, arahnya sesuai dengan yang digambarkan dalam sastra.

* Jembatan Alengka. Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan mistrius yang menghubungkan Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) sepanjang 30 Km, dengan lebar sekitar 100 m, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1.750.000 tahun. Angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.



 

 
 
Foto: Sri Rama Bridge hasil pantauan NASA

Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut) dengan lebar hampir 100 m.
Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.

 
Foto: Peta Oklo, Republik Gabon

 

 

Foto: bekas Reaktor Nuklir Berusia 2 Milyar Tahun di Oklo, Republik Gabon.

* Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebarluas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua milyar tahun yang lalu setelah adanya bukti data geologi dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun. Kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif. Masa primitif ini berakhir dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

Lagi-lagi perang dan haus kekuasaanlah yang mengakibatkan manusia menjadi terpuruk. Dan hal ini patut kita renungkan lebih seksama sebagai buah pelajaran bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini?

Saudaraku, sebagai manusia sekarang, jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu kita pun tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam sebagai upaya tidak mengulangi kesalahan fatal yang pernah dilakukan.

sumber : http://oediku.wordpress.com/2009/06/19/fakta-ilmiah-adanya-perang-mahabharata-perang-nuklir-zaman-prasejarah/

RAHASIA FISIKA QUANTUM 2 RAHASIA CAHAYA - MENUJU PEMAHAMAN RAHASIA KERAJAAN KENABIAN


 RAHASIA FISIKA QUANTUM 2
RAHASIA CAHAYA

Bismillah ir-Rahman ir-Raheem
Oleh M. Siddiqui , Ziad Sidawi
(www.nurmuhammad.com   -----   Naqshbandi Muhibeen   -----   nurmir@att.net)

MENUJU PEMAHAMAN RAHASIA KERAJAAN KENABIAN
Sejatinya (Sifat) Cahaya

Jika bagaimanapun mencapai kecepatan cahaya, waktu berhenti sama sekali.
Cahaya = Waktu

Mereka menghitung kecepatan cahaya adalah 186,000 mil per detik. Methoda normal menghitung kecepatan dalam relativitas adalah diambil sebagai contohnya sebuah gelombang suara. Mereka mencatat bahwa gelombang itu bergerak pada kecepatan 1088 ft/per detik. Jika anda bergerak pada kecepatan 1000 ft. /detik dan sebuah gelombang suara juga bergerak dengan arah yang sama, anda akan mengamati gelombang itu begerak dengan kecepatan 88 ft/detik. Begitu juga, untuk seorang pengamat yang bergerak dengan kecepatan 1088 ft/detik, kecepatan gelombang suara itu yang teramati adalah nihil. Juga (kalau) bergerak dengan arah berlawanan, anda akan menambahkan selisih kedua kecepatan itu jika menghitung dengan cara Fisika Newtonian klasik.

Mereka juga mencatat bahwa dengan gelombang suara diperlukan sebuah medium (perantara) untuk merambat, sehingga suara tidak merambat dalam sebuah ruang hampa. Pada sisi lain Cahaya tidak memerlukan sebuah medium untuk merambat dan tidak seperti gelombang suara, kecepatannya yang teramati tidak berubah terhadap kecepatan atau arah sang pengamat.
Maka meskipun untuk seseorang yang bergerak dengan kecepatan 100,000 miles/detik, kecepatan teramati dari cahaya itu masih tetap 186,000 mil/detik, kecepatan yang sama seperti jika pengamat itu diam di tempat.

Ini adalah teori relativitas yang tersohor itu.
Ini adalah sebuah fenomena yang adalah sangat nyata sekali bukan intuisi dan sesungguhnya belum dapat diterangkan oleh para ilmuwan – hanya bisa diamati dan dikembangkan (teori lanjutannya) dari situ.

Hal ini diterima secara universal meskipun sangat pelik untuk dimengerti, kecepatan cahaya adalah tetap untuk semua pemantau / pengamat tanpa tergantung dari kecepatan dan arah (pengamat itu). Einstein menerangkan bahwa ketika sebuah benda bertambah kecepatan nya, mendekati kecepatan cahaya, panjang fisiknya berkurang, dan massanya bertambah. Jadi kita mendapatkan sebuah benda hitam (black hole) memiliki massa tak terbatas namun tanpa ukuran.
Ketika sebuah benda mendekati kecepatan cahaya, waktu menjadi melambat namun kecepatan cahaya tetap konstan. Jadi jika dia bergerak pada 185,999 mil/detik, cahaya masih bergerak mendahului dia pada kecepatan 186,000 mil/detik. Dia tidak akan “memecahkan batas (kecepatan) cahaya”, tak seorangpun dapat mendekati nya. Namun jika sekiranya dia mencapai kecepatan cahaya, waktu berhenti sama sekali (baginya).

Aspek kelakuan cahaya yang ini membuat para ilmuwan fisika terperangah dalam ketakjuban dan keheranan: Bahwa dia dapat menyesuaikan kelakuannya yang teramati berdasarkan pengamat yang mengamatinya.

Dan lebih jauh tentang hal ini kita bicarakan lagi nanti.
Mawlana menjelaskan bahwa Nabi s.a.w. selalu bertambah ilmunya, dan bergerak naik dalam tingkatan (spiritual) nya, mithlayn mithlayn, setiap saat berlipat dua. Apa ini artinya, dalam kaitannya dengan relativitas umum adalah bahwa ketika Nabi s.a.w. meningkat naik ilmunya, apa yang terbuka baginya adalah sesuatu keilmuan yang lain lagi, karena cahaya itu, yang disini mewakili ilmu, selalu bergerak lebih cepat dari kecepatan apapun yang anda capai dan kecepatan (cahaya) nya itu selalu sama, meskipun jika sekiranya anda mencapai suatu kecepatan yang secara infinitesimal mendekati kecepatan (cahaya) itu.

Wa fawqa kulli dhi `ilmin `aleem
Ini diterangkan bahwa apapun tingkat ilmu yang anda capai, anda mendapati anda belum kemana mana, karena masih ada yang lebih tinggi lagi.

Ini juga mengingatkan kita kepada peranan Cahaya dan Pengamatan di dalam penciptaan Nabi s.a.w. dan telah di-Dandani-nya beliau s.a.w. oleh Allah dibawah Pandangan Ilahiah sebelum penciptaan seluruh makhluq lainnya. Pada saat itu belum terdapat ciptaan apapun kecuali Cahaya Nabi s.a..w., al-haqiqat al-Muhammadiyya, yang berputar putar di dalam Bahr al-qudra.

Mawlana menjelaskan bahwa pada saat itu, Allah mengirimkan Pandangan Ilahiah Nya pada Nabi s.a.w. 70,000 kali dalam setiap saat / detik nya.

Pada saat ini, diketahui bahwa melalui cahaya seseorang dapat mengirimkan sejumlah banyak sekali informasi secara digital dalam waktu yang sangat singkat. Kini, dengan ditemukannya sambungan data optik fiber, kita telah melihat data percepatan melonjak beberapa kali.
Seseorang kini dapat menyambungkan speaker nya via optik-fiber ke sebuah sistem stereo. Penggerak piringan (disk drives) disambungkan secara optis pada jaringan fiber sebagaimana komputer, memungkinkan informasi dikirimkan dengan kecepatan Gigabit.

Dan kita tahu bahwa para awliya menggunakan cahaya sebagai cara untuk memancarkan kekuatan spiritual.
Ketika seorang Shaykh menginginkan menghadiahi seorang muridnya dengan amaanat spiritual nya, dia akan memandang ke dalam matanya, dan menuangkan ilmu yang berada dalam qalbunya ke dalam qalbu muridnya melalui pandangan mata hati (visi). Itu adalah transmisi cahaya.

Jadi ketika Nabi s.a.w. sedang berputar di dalam Hadhirat Ilahi, di bawah nadhra Allah dengan frekwensi 70,000, beliau sedang didandani melalui cahaya Pandangan Allah, dengan ilmu alam bentuk gelombang. Gelombang di dalam gelombang, dalam hakikatnya samudera Cahaya Ilahiah disorotkan kepada Dzat Nabi s.a.w.., al-haqiqat al-Muhammadiyya dan di dalam proses itu informasi dimasukkan ke dalam pemahaman Nabi s.a.w., `aql atau kesadarannya. Dengan cara itu Nabi dinaikkan (tingkatnya) dalam setiap detiknya, tingkat demi tingkat dari Ilmu Ilahiah, dan tetap berlangsung secara demikian sampai saat ini.

Berdasarkan konsep relativitas umum ini, para ifisikawan bahkan berdebat tentang sebuah alam semesta (universe) tak berhingga (infinite) di dalam ruang yang terbatas,dengan menyatakan bahwa jika kecepatan galaxy meningkat (sebanding dengan) lebih jauhnya mereka dari pusat ledakan agung, maka ketika diamati kecepatannya mendekati dekat sekali dengan kecepatan cahaya, bentuk ruang mereka dalam arah gerakan mulai tertekan, “menggepengkan” mereka dalam arah gerakan.

Kita harus mencatat bahwa ketika para fisikawan belum pernah (melihat) apapun yang bergerak dengan kecepatan lebih cepat dari kecepatan cahaya, itu tidak berarti yang seperti itu tak terjadi . Sesungguhnya, beberapa fisikawan telah memperkirakan (postulated) sebuah kelompok zarah (particles) yang disebut tachyons, yang batas kecepatannya tidak pernah kurang dari cahaya dan yang pada kenyataannya bergerak mundur dalam waktu.

Photons dan bentuk lain radiasi electromagnetik tidak memiliki waktu, karena mereka bergerak pada kecepatan cahaya. Karena mereka nir waktu (timeless), mereka berada di mana mana sepanjang jalurnya pada saat yang bersamaan. Dan jalur mereka adalah alam semesta ini.
Dengan kata lain sekali sebuah gelombang dilepaskan, itu akan hadir dimana mana pada saat yang bersamaan. Dinyatakan secara lain, segala sesuatu di dalam alam semesta masa lalu, masa kini dan masa datang tersambung dengan segala sesuatu lainnya, dalam sebuah jejaring radiasi elektromagnetik yang melihat segala sesuatu pada saat yang bersamaan.” John Gribben, Fisikawan.

Dimengerti bahwa sekali anda memancarkan radiasi dalam bentuk apapun, itu menjadi tersedia ke setiap titik di dalam alam semesta ini secara bersamaan, karena sementara bagi pengamat itu sendiri akan memakan waktu lama sekali untuk mencapai yang manapun dari tepian alam semesta, faktanya adalah bahwa jalur yang akan dilewati, yang senyatanya adalah seluruh alam semesta ini, karena sebuah gelombang bergerak ke segala arah, dan karena gelombang itu tidak mengalami waktu apapun, itu langsung tersambung dengan tiap dan masing masing “sudut” alam semesta ini.

Ketika kita mengucapkan Salawat/ Senandung Pepujian bagi Nabi, suara itu bergerak melalui medium di atmosphere, dalam sebuah medium yang akan mengurangi kekuatan akustiknya, sejalan dengan jarak yang ditempuhnya. Namun apa yang kita tahu adalah bahwa otak manusia mengeluarkan gelombang otak, dan itu adalah sekedar niat dan perintah otak kepada lidah untuk mengucapkan salawat itu. Jika anda memasang sebuah alat EKG pada otak manusia, anda mendapati sebuah gelombang yang ditimbulkan oleh niat untuk membuat salawat dan berdasarkan pada diskusi di atas, gelombang salawat itu pada saat itu pula tersedia di seluruh alam semesta!

Jadi, dari sabda Allah, bahwa sekali anda berniat baik, itu sudah tertulis bagi anda sebagai sebuah amal baik dan itu akan mendapatkan pahala (hadiah). Adalah jelas dari pemahaman ini bahwa dengan memiliki sebuah niat baik, segera itu tercipta dan dipancarkan ke alam semesta, dimana itu menjadi nir waktu dan siap dan menanti anda, dan akan memberi anda pahala, pada saat kedatangan anda di Hari Pengadilan.

Jadi jelaslah sudah, bagaimana pada Hari Pengadilan salawat itu dikumpulkan dan dipersembahkan kepada Allah agar supaya sesiapa yang melakukannya mendapatkan pahalanya itu. Teruslah diingat bahwa kapanpun salawat dilakukan, Allah memiliki malaikat - malaikat yang mengulang salawat si pengucap itu dan (para malaikat itu) sebaliknya mengucapkan salawat baginya (si pengucap) dan (juga) membuat istighfaar baginya – ini saat ini juga sangat nyata dapat terjadi bersamaan dengan pengucapan salawat itu, sesaat ini juga, tidak peduli jarak mereka (para malaikat) dari orang tadi dekat atau jauh.

Segala sesuatu di alam semesta mengeluarkan gelombang elektromagneti agar supaya terjadi tindakan. Ini bahkan telah ditunjukkan kebenarannya pada tanaman dan bahkan sel sel. Semua benda hidup pada dasarnya menggunakan gelombang elektromagnetik untuk berkomunikasi di dalam dari satu bagian ke bagian lainnya. Maka dari itu, bahkan tasbih nya tetanaman, sel sel dan bentuk kehidupan yang terkecilpun sesungguhnya segera “tersedia” bagi seluruh alam semesta, sekali itu di-inisiasi (diawali)–dan inilah salah satu makna di belakang baraka dhikr dan tasbih.

[Maka perlu orang beriman hati hati dan menyadari apa yang dipancarkan otak mereka untuk pemikiran apapun, segera menjadi nir waktu dan “disiarkan” ke seluruh alam semesta secara bersamaan. Demikian sederhanalah bagi para malaikat pencatat untuk mencatat apapun yang diniatkan oleh seseorang– itu sudah tertanam ke dalam struktur alam semesta. Suatu waktu seorang shaykh mengatakan kepada muridnya, kamu datang untuk salaat dan kamu berzina.
Murid mengatakan, tidak saya tidak. Dia bilang, “Ya, kamu memandang pada perempuan itu dengan nafsu.” Jadi murid itu sekali dia membuat pikiran itu, itu menjadi tersedia ke alam semesta dan mereka yang memiliki kemampuan untuk “memungut nya”, melakukan itu. Itulah sebabnya pada Hari Pengadilan, panjang gelombang itu sudah hadir, dan shahadat dari lima inderamu dan kaki dan tanganmu yang niatnya telah dibuat nir waktu melalui emisi elektromagnetik ini.]

Hadith Qudsi 16:
Dengan otoritas putra Abbas (r.a.), dari Rasul Allah (s.a.w.), di antara ucapannya yang dia ceritakan dari Rabb S.W.T.nya adalah bahwa Dia bersabda:
Allah telah mencatat amal yang baik dan yang buruk. Kemudian Dia menjelaskan nya [dengan mengatakan bahwa] dia yang meniatkan sebuah amal baik dan belum melaksanakannya, Allah mencatatnya dengan DiriNya sebagai perbuatan baik sepenuhnya, namun bila dia meniatkan dan telah melaksanakannya, Allah menulisnya dengan DiriNya sebagai sepuluh perbuatan baik dari sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipatnya, atau lebih banyak perkalian lagi. Tetapi kalau dia berniat (melakukan) sebuah perbuatan buruk dan dia belum melakukannya, Allah mencatatnya dengan DiriNya sebagai sebuah perbuatan baik sepenuhnya, namun bila dia berniat buruk dan telah melakukannya, Allah mencatatnya sebagai sebuah perbuatan buruk.
Itu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.


Jadi jika seseorang meningkatkan pemahamannya selangkah lebih jauh, itu menjadi nampak jelas bahwa pada saat penciptaan, Ledakan Agung itu sendiri, segala sesuatu benda segera tersambung, masa lalu, masa kini dan masa datang dengan masa saat ledakan itu, kini dan akan datang untuk semua keberadaan alam semesta, sebagaimana tertulis di dalam sebuah buku.

Seluruh alam semesta ini menjadi ada bersamaan dengan ledakan agung itu, semburatnya cahaya yang dalam dirinya adalah nir waktu, dan yang berisi semua materi alam semesta itu adalah tersambung (terkait) dengan seluruh benda benda secara sempurna. Dan, dengan setiap niat ciptaan untuk menetapkan sebuah tindakan, pancaran radiasi elektromagnetik telah membawa niat itu ke dalam sebuah “buku amalan amalan” nir waktu, yang sejatinya mencapai mulai saat saat penciptaan itu pula sampai kepada kemusnahannya, tanpa perbedaan tentang waktu apapun. Di dalam pengertian inilah mungkin bahwa orang dapat mengatakan segala sesuatu “telah ditulis” atau ditetapkan sebelumnya dan Allah paling mengetahui.

Jaffat il-aqlam wa rafa`at as-suhuf.
Yamhullaha ma yasha`u ya yuthbit wa `indahu umm ul-kitab.

Sebagaimana telah kita sebutkan terdapat tachyons, sesuai dengan spekulasi (perkiraan), dapat bergerak lebih cepat namun tidak sama dengan kecepatan cahaya, dan itu mungkin melalui medium obyek inilah Allah menyesuaikan masa lampau, sebagaimana dalam yamhullaha ma yasha`u, dan hanya Allah mengetahui hakikat hal ini.

Dualitas (Sifat Ganda) Cahaya
Dalam tahun 1905 Einstein memperagakan bahwa cahaya memiliki sifat sifat bercitra partikkel dan gelombang pada saat yang sama : efek photoelectrik, yang untuk inilah dia kemudian mendapat Hadiah Nobel.
  • Sejak saat itu, alam ganda yang menjadi ciri cahaya tadi telah menjadi dikenal sebagai Dualitas gelombang - artikel.
  •  Melalui percobaan celah ganda (double-slit experiment), dalam tahun 1803, Thomas Young memperagakan bahwa cahaya ketika melalui sebuah celah sempit tunggal menimbulkan sebuah citra baur (kabut) pada layar di belakang celah tadi, disebabkan oleh difraksi gelombang cahaya.
  • Jika ada dua celah sempit di hadapan berkas cahaya tadi, cahaya itu menghasilkan sebuah pola interferensi, seperti halnya melemparkan sebuah batu ke dalam air danau dan ketika gelombang (yang timbul) itu mencapai sebuah jembatan dengan dua kolom dalam air, gelombang itu akan bergerak mengitari kedua kolom itu dan sampai di sisi lain, dan akan saling berinteraksi dengan gelombang yang datang dari kolom yang lain, dan menguat amplitudonya di tempat mereka bergerak dalam arah yang sama dan turun amplitudonya di tempat mereka bergerak dalam arah yang berlawanan.
  • Inilah yang terjadi dalam percobaan dengan seberkas cahaya.
  • Kini ketika mereka menggunakan sifat ganda cahaya, dengan menggunakan sifat partikelnya, mereka menembakkan satu partikel cahaya pada satu saat, melalui dua celah ini, satu demi satu, bergantian antara kedua celah itu.
  • Ketika setiap foton secara bergantian ditembakkan, kita akan mengharapkan (secara masuk akal) sebuah citra baur akan terbentuk, sebagaimana tejadi di dalam percobaan pada satu celah.
  • Namun sebaliknya, terbentuklah pola interferensi yang khas dari strip hitam putih jamak, persis seperti jika itu tadi berasal dari seberkas cahaya yang ditembakkan melalui kedua celah secara bersamaan.
  • Jadi partikel itu, pada dasarnya berperilaku seperti sebuah berkas cahaya, yang adalah sebuah fenomena gelombang.
Pokok masalahnya disini adalah, bagaimana foton itu tahu bahwa celah kedua terbuka atau tertutup? Karena setiap foton secara bertuturt turut ditembakkan satu demi satu. Namun disamping itu, dia (foton itu) bertindak sama seperti sebuah gelombang. Inilah yang disebut “berkomunikasi” dalam dunia ilmu sains.

E.H. Walker menghitung bahwa foton mungkin memiliki kesadaran. Gary Zukov mengatakan, “kita tak punya pilihan kecuali mengakui bahwa foton, yang memproses energi, juga memproses informasi dan bertindak sesuai dengan hal itu.”

Percobaan lain, yang ditunjukkan oleh percobaan kristal calcite
  • Bahwa fenomena identis ini tidak hanya terjadi pada foton, tetapi juga dengan elektron, proton dan bahkan atom wutuh pun berkelakuan seperti ini.
  • Apa ini artinya adalah bahwa apabila sebutir atom ditembakkan kepada sebuah celah, kelakuannya akan seperti sebuah fenomena gelombang.
  • Dalam salah satu percobaan, ketika mereka memonitor celah itu di saat sebuah partikel melaluinya, baik pada satu celah ataupun pada dua celah, katakanlah sebuah elektron, itu melewati celah tersebut sebagai sebuah partikel dan tidak berkelakuan seperti sebuah gelombang.
  • Partikel itu nampaknya “memilih” untuk berkelakuan seperti sebuah partikel, dan tidak sebagai sebuah gelombang, sebelum dia mencapai celah itu.
  • Dalam sebuah modifikasi lanjutan dari percobaan celah ganda para penyelidik menempatkan sebuah pemindai (detector) foton pada salah satu dari dua celah itu.
  • Dengan sebuah pemindai, para fisikawan sekali lagi mengarahkan foton foton itu, satu per satu (bergantian), kepada dua celah tersebut.
  • Sebuah pola dua strip muncul secara tak diduga, foton tunggal tadi tidak lagi berkelakuan seperti seberkas (cahaya) yang bergerak melalui dua celah sekaligus, namun sebaliknya setiap foton nampaknya menandai adanya pemindai itu dan menembus celah celah tersebut sebagai sebuah partikel dan tidak nampak pola interferensi pada layar.
  • Kehadiran pemindai itu, bicara logisnya harusnya tidak merubah hasil (percobaan).
  • Partikel itu“merasakan” hadirnya pemindai itu dan sebagai hasilnya (partikel tadi) tetap wutuh (tidak berubah menjadi gelombang).
  • Mengapa kehadiran pemindai harus menyebabkan perubahan kelakuan foton itu, tidaklah diketahui.
  • Kekuatan apa yang sedang bekerja yang menyebabkan foton itu bertindak sebelum mencapai pemindai itu.
  • Mempertimbangkan bahwa foton itu sudah “membuat keputusan” untuk bertindak sebagai sebuah partikel bahkan sebelum mencapai pemindai itu.

Gerald Schroder “akhir dari garis untuk sebab-akibat (causality). Kondisi identik harusnya memberikan hasil identik pula. Percobaan ini menunjukkan hal yang sebaliknya.” Gribben, “apa yang kamu dapati dalam keadaan seperti itu adalah bahwa setiap elektron nampak seperti sebuah partikel, bergerak melalui sebuah lubang atau lainnya. Itu berkelakuan seperti sebuah peluru. Dan loh lihatlah, pola interferensi hilang. Sebagai gantinya pola pada layar adalah satu dari pola yang dihasilkan oleh peluru peluru kecil, yang dikirimkan melalui lubang lubang secara bebas …. saat penting bergerak melalui lubang itu.” [halaman 59 catatan kaki 5]

Fisikawan telah menciptakan ungkapan “runtuhnya fungsi gelombang” sebagai sebuah penjelasan tentang perubahan kepada kelakuan partikel ketika hanya terjadi di bawah pengamatan. Hanya ketika diamati saja sebuah partikel akan berkelakuan sebagai sebuah partikel.
Kita mendapati bahwa apakah sebuah pemindai di salah satu dari 2 celah atau 2 pemindai pada masing masing celah yang digunakan, bahwa hasilnya sama saja : adalah hadirnya sebarang pemindai, bukan jumlahnya yang menyebabkan gelombang itu berubah menjadi partikel. Kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa kenyataan adanya pengamatan jelas jelas merubah hasil percobaan itu.

Cahaya tetap sebagai sebuah gelombang tanpa pengamatan, namun menggabung menjadi sebuah partikel jika diamati dengan sesuatu yang bisa menangkap fenomena partikel.
[diringkas untuk artikel, taruh rincian percobaan dalam catatan kaki]

Percobaan kedua yang memperagakan “kesadaran pengamatan” adalah ketika gelombang radio digunakan untuk merangsang ion Be. Gelombang itu menyebabkan atom melompat dari keadaan (status) bumi, dimana elektron level 1 menjadi level 2. Dengan menerapkan impuls radio pada 256 ms tepat, 100% ion ion itu bergeser ke level 2. Begitu juga sebuah semburan 128 ms akan menyebabkan hanya 50% yang membuat perubahan (level) itu dan jelaslah adanya sebuah hubungan liniar antara waktu dan jumlah ion dalam level 2.

Para penyelidik itu mengembangkan sebuah teknik cangghh yang membuat nya bisa mengukur jumlah ion dalam level 1 atau level 2. Teknik ini membuat Tim bisa mengukur dampak pengamatan tanpa merubah methodologi.

Mereka menembakkan alat laser dan membaca berapa banyak ions berada di level 1. Kini jika para pengamat itu mengamati ion ion itu empat kali dalam jangka waktu 256 ms dari “serangan terhadap” ions di bawah frequensi radio, pada 64, 128, xxx dan 256 ms, hanya 3/4 dari ion ion itu didapatkan dalam level 1 pada akhir 256 ms. Itu artinya jika seseorang dapat secara berkesinambungan mengamati ion ion itu, ternyata mereka tidak berubah status. Jadi kegiatan pengamatan ion ion itu membuat jumlah ion yang naik ke level 2 menjadi berkurang. Jika mereka dapat mengamati secara terus menerus, mereka tidak akan mencapai level 2.

John Gribben berkata: “Jika sekiranya mungkin untuk memindai ion itu sepanjang waktu, mereka tidak akan berubah, sebagaimana disarankan oleh teori quantum ini, (maka) dunia ini hanya ada karena itu diamati. Dunia hanya akan berubah karena dia tidak diamati terus menerus.” Jadi, sebuah panci pemasak air yang diamati tidak akan mendidih secara teori.

Salah satu teori yang paling banyak diterima adalah bahwa segala sesuatu ada dalam bentuk gelombang alami sampai dia diamati. Pada waktu itulah gelombang itu “runtuh” menjadi sebuah partikel dan besaran itu menjadi apa yang kita kenali sebagai “realitas”. Sebagai sebuah contoh, cahaya itu kita tangkap dalam pikiran ada dalam bentuk gelombang, sampai dia diamati dengan mata. Di satu titik antara cornea (mata) dan otak, cahaya tadi berubah menjadi sebuah partikel.
Pada level sel, malaikat ditugaskan untuk setiap sel, setiap molekul dan setiap atom. Para malaikat ini terus menerus “mengucapkan” tasbih. Para malaikat itu selalu “mengamati” obyek itu yang ditugaskan kepadanya. Inilah yang membuat obyek itu dalam bentuk partikel, yaitu keberadaan mereka. Sekali malaikat yang ditugaskan itu meninggalkan tugasnya atas perintah Allah, objek itu tidak lagi di bawah pengamatan dan dengan itu kembali berubahlah dia menjadi sifat gelombangnya, atau bahr al-qudra, samudera kekuatan, dan Allah Maha Tahu.

Seluruh alam semesta dalam keberadaan (existence) di bawah Pandangan Allah dalam setiap saat, dan jika Allah menghentikan Pandangan Nya untuk sesaatpun, itu tidak akan ada lagi. Kini awliyaullah dikaruniai kekuatan untuk berada dalam banyak tempat pada waktu yang bersamaan.

Haqiqat at-tay: boleh jadi karena faktanya awliya bergerak sebagai gelombang, dan berjalan dengan kecepatan cahaya: karena begitu sebuah gelombang ada, itu dibuat menjadi ke dalam keberadaan nir waktu dan merubah diri mereka menjadi bentuk partikel dan nampak pada satu tempat yang jauh sekali.
  • Sebagai sebuah gelombang, apabila mereka bergerak ke berbagai tempat, mereka bergerak ke berbagai “celah” yang berada diberbagai lokasi, lalu mereka berubah (lagi) menjadi partikel,
  • Ketika Sayyidina Sulaiman berkata, siapa yang dapat membawa `arsy Bilqis, jinn menjawab bahwa menggunakan kekuatannya dia dapat membawanya sebelum …
  • Mereka yang memiliki ilm al-kitab, mereka ini dapat membawanya melalui bentuk gelombang, dan sebagaimana Arabic mengatakannya, “qabl an yartada ilayk tarfuk.”
  • Itu berarti sesaat langsung, karena begitu gelombang itu terbentuk itu tidak lagi terkekang oleh waktu sama sekali.
  • Jadi mungkin bahwa dia merubah `arsy Bilqis kedalam bentuk gelombang, dan karena pada saat itu mereka tersedia pada setiap lokasi di dalam alam semesta, dia secara gampangnya merubah lagi bentuknya ke dalam bentuk partikelnya di dalam majelis Sayyidina Sulayman (as).
  • Seorang wanita mendatangi seorang Aulia, sambil menangis “anak lelaki saya dalam sebuah kapal di laut, dan kapal itu telah terbalik dan dia tidak tahu bagaimana berenang. Mohon tolonglah dia.” Segera Shaykh itu menjulurkan tangannya dan ketika dia menarik lagi tangannya itu dia sedang memegangi anak lelaki wanita tadi dengan tangannya itu, dan lengannya basah kuyub dengan air.
  • Kita telah melihat bahwa dengan kekuatan dari cahaya, seorang wali boleh jadi menggunakan gelombang – tubuhnya untuk bergerak dengan kecepatan cahaya. Pada lokasi kapal yang sedang tenggelam itu, wali itu membuat lengannya menjadi bentuk partikel lagi, menggaet anak lelaki itu dan kemudian merubah kembali dirinya menjadi bentuk gelombang dan menggerakkan lengannya dan anak lelaki itu ke dalam masjidnya, dimana dia merubah lagi lengannya dan anak lelaki itu kembali ke dalam kondis partikeli. Inti dari ini adalah untuk menghentikan efek dari pengamatan kepada dirinya, yaitu, para malaikat dari sel sel tubuhnya, yang terus menerus memindai partikelnya, namun menggunakan metoda yang sama dengan yang digunakan dalam pembalikan polarizer yang ditaruh pada lokasi akhirnya, operasi ini mengambil tempat ketika shaykh itu tidak sedang diawasi, dia menyelamatkan anak itu dan kembali, memulihkan dirinya sendiri dan anak itu kepada bentuk “partikel”.

Kini pertanyaannya adalah : bagaimana dia bisa bergerak dan nampak diam di tempat?
Jadi seperti efek non-polarisasi dari berkas cahaya di dalam percobaan calcite, Shaykh itu dapat bergerak pada kecepatan cahaya,

  • Kini kita (bisa) mengerti bahwa pada malam Isra dan Mi`raj, Nabi s.a.w. pergi secara fisik, bukan (hanya) spiritual, ke Hadhirat Allah Azza wa Jalla.
  • Kita tahu bahwa tubuh dapat bergerak pada kecepatan cahaya, di mana waktu berhenti, dan itulah sebabnya setelah semua perjalanan dari Makkah ke Jerusalem, dan kemudian ke ketinggian Langit, dia s.a.w. kembali dalam sesaat sebagaimana akan terlihat oleh pengamat, (sekiranya ada pengamat itu). Karena dikatakan, bahwa ketika dia s.a.w. kembali, air yang dia tumpahkan ketika dibangunkan oleh Jibreel (as), masih menetes, dan pada waktu kembalinya tempat tidur Nabi masih terasa hangat.
  • Karena mereka berada dalam bentuk cahaya, para Nabi shalat di belakang dia dalam bentuk raga-cahaya nya, dan untuk alasan itulah waktu tidak memberi efek. Kemudian dia bergerak ke maqam qaaba kawsayni aw adna, bergerak melintasi jarak jutaan tahun cahaya atau lebih, namun kembali dalam sesaat.
  • Dan pada perjalanan pulang dari Bayt al-maqdis, Nabi s.a.w. mengamati sebuah iringan (qafila) kaum Quraysh, pada perjalanan kembali ke Makkah.

Tubuh Jamak
 Perbandingan aspek lainnya dari para nabi adalah seperti percobaan celah yang digunakan untuk memperagakan sifat ganda gelombang-partikel tadi itu.
  • Pada kasus Sayyidina Bayazid, dia memilih untuk bergerak melalui 12,000 lokasi berbeda sebagai gelombang pada saat yang sama.
  • Jika anda melemparkan sebutir batu ke sebuah kolam, itu akan berefraksi melalui semua dari banyak lubang di jembatan itu.
  • Sedemikian hingga Aulia itu dapat mengubah dirinya sendiri di lokasi fisik yang berbeda beda, seperti halnya gelombang muncul di berbagai lokasi.
  • Kini bagaimana dia berkoordinasi antara berbagai penampakan fisik dirinya itu – bukankah ini sebuah pertanyaan yang adil?
  • Sekali waktu mereka bertanya kepada Bayazid al-Bistami, di berapa tempat anda shalat hari ini. Dia bilang, “duabelas ribu.”
  • Dia kemudian bertanya, “tanyakan kepada orang ini dan orang itu, jika anda inginkan bukti.”
  • Itu artinya semua 12,000 berada di bawah satu keberadaan (existence) dan satu kesadaran.
  • Ini sama dengan apa yang terlihat di dalam percobaan itu, yaitu bahwa jika sebuah berkas cahaya dipisahkan, masing masing berkas mengetahui tentang bagiannya yang lain yang terpisah itu, secara sesaat.
  • Gelombang seperti EM dan gelombang cahaya terbatas kepada kecepatan cahaya. Mereka itu disebut lokal.
  • Medium lain yang bertindak di luar waktu, dikenal sebagai non-lokal dan bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya – seperti visi dan telepathi dalam istilah manusia. Para matematisian dan fisikawan telah benar benar membuktikan non-lokal ini dalam percobaan berikut ini.
Dalam tahun 1930, Einstein, Podolski dan Rosen, (EPR) berkolaborasi di dalam sebuah percobaan “pikiran” yang dikenal sebagai percobaan EPR. Mereka menciptakan percobaan ini sebagai sebuah argumentasi (sanggahan) terhadap non-lokal. Einstein telah bersuara sangat vokal menentang konsep ini, karena konsep itu secara tak langsung mengartikan bahwa realitas sesungguhnya adalah diciptakan oleh pengamatan.

Einstein tidak hidup untuk menyaksikan percobaan yang dilakukan dalam tahun 1964, John Bell menerbitkan bukti matematis pertama yang dikenal sebagai Teori Bell tentang Ketidak-samaan Bell, membuktikan adanya non-lokalitas, Tidak sebelum tahun 1972 di mana John Clauser melaksanakan percobaan EPR sains sungguhan di Berkeley.

Dalam tahun 1982 Alain Aspect mengulang versi yang diperkaya terhadap percobaan itu. Kedua percobaan itu membuktikan non-lokalitas.

Dalam percobaan itu, patikel yang dirangsang menghasilkan 2 foton. Masing masing bergerak di arah yang berlawanan. Ketika setiap pasangan foton berpisah, mereka diamati sebagai kembar (identik) dalam semua aspek, kecuali arah bergerak mereka, termasuk sebuah kualitas penting yang disebut polarizasi. Polarizasi adalah sudut di mana gelombang cahaya itu dibelokkan di dalam ruang.

Jadi kalau salah satunya dipolarizasi pada nol derajat, maka yang satu lagi juga begitu. Clauser dan Aspect menggunakan aspek ini untuk melaksanakan analisa mereka tentang nonlokalitas.
Dalam percobaan calcite crystal (tersebut diatas), calcite itu memiliki sifat dapat membelah seberkas cahaya menjadi menjadi dua berkas sejajar, jadi sebagai gantinya dua celah, para peneliti menggunakan calcite untuk memisahkan berkas cahaya.

Dalam percobaan ini yang dibuat dalam tahun 1991 oleh fisikawan Martin Sculley foton diperlihatkan berkelakuan satu begini bila diamati, dan kelakuannya lain lagi bila tidak diamati. Setelah berkas foton dibelah oleh kristal calcite, masing masing separuh hasilnya diarahkan melalui cermin kepada sebuah pemecah berkas, yang meneruskan separuh cahaya dan memantulkan yang separuh lagi.
Jadi foton itu ditembakkan, lalu terbelah menjadi dua berkas, itu mengenai pemecah berkas, dan kemudian dari pemecah berkas akan dipantulkan ke satu pemindai atau (separuhnya) menerobos pemecah berkas itu dan diterima oleh pemindai yang lain. Itu seperti sebuah katup digital, yang memantulkan atau meneruskan cahaya itu.

Jadi secara teoritis, dengan sebuah foton, itu hanya akan memantulkan atau meneruskan foton tunggal tersebut, tetapi tidak kedua duanya. Jadi terdapat 50% kemungkinan sebarang foton yang ditembakkan di jalur ini akan dipantulkan atau diteruskan.
Foton foton itu terlihat bergerak dengan cara seperti tersebut di atas kepada pemindai satu atau dua, dibelah melalui kristal itu kedalam dua berkas dan dipantulkan melalui cermin kepada pemecah berkas. Dari situ foton itu akan mengenai pemindai satu atau dua, tetapi tidak akan kepada kedua duanya sekaligus.

Mereka nampak mengatur diri mereka sendiri ke dalam pola awal foton, dimana jika separuh dipantulkan pada pemecah berkas maka separuh lagi akan diteruskan. Tindakan pengamatan dilaksanakan menggunakan cermin terpolarisasi, dan apabila sebuah polarizer balik ditempatkan di depan pemindai pada akhir lintasan cahaya, foton itu berkelakuan (seperti) jika tidak diamati.
Para peneliti itu kemudian memodifikasi percobaan itu menjadi pada lintasan yang akan dilewati cahaya ditempatkan sebuah polarizer 90-derajat. Dengan mem-polarisasikannya 90 derajat, para fisikawan itu meyakini bahwa mereka dapat mengamati foton itu, dengan membeda bedakannya.

Anehnya, taktik pemindaian ini merubah mekanisme rekonstruksi dan foton tunggal tadi kini menjalani dua lintasan, menggerakkan kedua pemindai secara bersamaan. Ketika mereka menempatkan sebuah polarizer balik pada akhir lintasan di depan masing masing pemindai, yang sesungguhnya meniadakan efek polarisasi, setelah pemecah berkas, maka foton itu hanya menggerakkan satu pemindai atau lainnya.

Adalah pengamatan ini yang membawa para peneliti itu untuk menyimpulkan bahwa foton itu kenyataannya telah mengenali perubahan sistem pengamatan setelah dia diteruskan, yang artinya foton itu dibuat “sadar” akan perubahan tersebut, dan menyesuaikan kelakuannya setelah melewati lintasannya itu (circuit).

Percobaan ini membuat bengong para ilmuwan yang membaca hasilnya, karena itu menunjukkan bahwa foton cahaya sesungguhnya bukan hanya sadar sedang diamati namun juga sadar tentang perubahan dalam methoda pengamatan setelah “ditembakkan” dari sumber cahaya.
Dari pengamatan seperti itu, para pemikir besar ditinggalkan dalam keadaan tercengang. Neils Bohr sekali waktu memberi keomentar, “Mereka yang tidak tercengang ketika pertama kali menjumpai teori quantum ini tidak dapat ‘mungkin telah memahami-nya’.”


Perbedaan antara yang hidup dan yang mati
Dari seluruh diskusi di atas, adalah jelas bahwa pelaksanaan pengamatan dari para malaikat itu kepada sel sel dan partkikel manusia adalah yang “mengaktifkan” keberadaan mereka pada tataran (dataran).

Mereka yang hidup memiliki sebuah raga dan sebuah jiwa. Mereka yang mati memiliki jiwa namun tanpa raga. Jiwa itu adalah bentuk “energi”, atau raga-cahaya. Perbedaan utama antara kedua nya adalah bahwa para malaikat telah disingkirkan dari raga itu, yang hadir di dalam setiap makhluq hidup, yang kegiatan pengamatannya menyebabkan sebuah obyek untuk mempertahankan bentuk partikelnya. Sekali para malaikat ini disingkirkan, pengamatan berhenti dan jiwanya berubah menjadi bentuk energi dan bergerak dengan bebas.
Energi itu, jiwa itu, masih di sana.

Koneksi Uwaisi
Dalam percobaan EPR, polarizer itu ditempatkan …
Dalam peristiwa terkenal dari Sayyidina Umar yang melihat panglimanya Sariya, dia mampu melihat apa yang terjadi melintasi bumi. Memindai bahaya, waktu itu dia mampu meneriaki Sariya, dan mengatakan kepadanya apa yang harus dikerjakan dan Sariya mendengar nya dan bertindak sesuai perintah.

Dan pendengaran itu sederhananya adalah sebuah kegiatan getaran udara yang mengenai gendang telinga dan kemudian dirubah menjadi sebuah “gelombang otak” yang menjalar ke bagian pendengaran dari otak (mind).

Jadi kita bisa mengandai andai bahwa Sayyidina Umar memancarkan suatu gelombang otak dari pikirannya ketika dia berbicara, yang melintasi dari Madina ke Sham dengan kecepatan cahaya dan gelombang ini “dipungut” oleh “penerima/receiver” Sariyya dan dirubah menjadi suara nyata melalui sinyal listrik yang berlangsung di dalam bagian aural/audio dari otak.

Nah ini masuk akal untuk dimengerti dari pandangan fisika. Namun kemudian pertanyaannya adalah bagaimana Sayyidina Umar melihat apa yang terjadi ke pada Sariya?
Pada kecepatan pikiran,
  • Jika anda punya pemancar dan penerima untuk menerima gelombang pikiran, maka komunikasi dilakukan dengan transmisi gelombang (pikiran), bukan dengan gelombang suara.
  • Jadi kita mendapati bahwa Shaykhs, melalui koneksi Uwaysi itu, dapat berkomunikasi antara sesamanya melintasi jarak dan dari sesorang yang meninggal kepada orang yang hidup.
  • Agar supaya berkomunikasi murid Shaykh harus berkomunikasi kepada bentuk gelombang, itulah sebabnya jika dia masih belum terlatih, dia hanya bisa menerima transmisi seperti itu dalam mimpinya.
  • Namun kita tahu bahwa khususnya dalam … Shaykh akan mengatakan, ‘tunggu sampai besok, dan aku akan duduk dengan Nabi s.a.w. dan dia mendapatkan izinnya.’
  • Kemudian terdapat masa menunggu dan persiapan, dan Shaykh akan bertemu dengan Nabi s.a.w. dalam majelisnya.
  • Kita melihat bahwa Sayyidina Bayazid, setelah sekarat dalam tempat sampah, menjadi mengerti pembicaraan hewan. Apakah itu sesungguhnya mendengar anjing berkata, gonggongannya atau itu mendengar gelombang otak si anjing, yang mengatakan “jangan sentuh tulang itu, itu punyaku.”
  • Begitu juga, Sayyidina Sulayman a.s. diberi karunia hadiah mengerti pembicaraan hewan dan burung, dan dari kejauhan mendengar peringatan semut kepada kelompoknya ….  Dia tersenyum ketika mendengar ini dan memuji (berterima kasih kepada) Allah untuk karunia Nya itu.
  • Apakah semut itu sesungguhnya berbicara begitu keras untuk didengar Sayidina Sulayman atau dia sesungguhnya berkomunikasi melalui gelombang pikiran semut kepada “penerima” nya?
  • Berbicara artinya otak harus merumuskan sebuah rangkaian suara dan kemudian mengirimkan pesan itu ke tali suara dan lidah untuk membentuk suara dari setiap kata itu.
  • Namun begitu seseorang menyuarakan pikirannya, pikiran itu sudah dipancarkan (lebih dulu).
  • Melisankan pikiran membangun satu bentuk gelombang otak, yang adalah yang secara relatif (nisbi) intensif (kental) dibandingkan dengan panjang gelombang pikiran yang tetap tersembunyi, atau yang oleh yang memikirkan ingin disembunyikan.
  • Awliya, dikaruniai dengan kemampuan untuk membaca gelombang otak (pikiran), jadi dapat menerima pikiran orang lain di sekitarnya dan membaca mereka seperti seseorang membaca sebuah buku.
  • Jadi sekali dipikirkan, atau khatir bergerak melalui qalbu seseorang, wali dapat menerima nya dan mengertinya, meskipun dia yang memikirkan itu tidak mengerti bahasanya. Jika seorang gila membunuh seseorang, dia tidak (bisa disuruh) bertanggung jawab. Itu adalah karena kapasitas otaknya berada di bawah kapasitas seorang muballagh, dia seperti seorang anak kecil. Otaknya tidak mampu melakukan kegiatan pada level “pemancaran/transmisi.”

Sifat Ganda gelombang-partikel
Mereka yang hidup berada dalam sifat ganda partikel dan gelombang, namun hanya pribadi yang spiritualnya sudah “diaktifkan” yang dapat menggunakan kekuatan di dalam sifat ganda ini. Mereka yang meninggal adalah dalam bentuk spiritualnya, tubuh-gelombangnya, namun jika dia belum diaktifkan kekuatan dalam dirinya sebelum meninggalnya, dia masih tidak dapat menggunakan kekuatan itu untuk bergerak di dalam dimensi spiritual.

Dikatakan bahwa awliya, apabila mereka meninggal, memiliki kekuatan yang lebih dari pada ketika mereka masih di dalam bentuk fisiknya. Itu karena pada saat itu mereka menjadi spirit/ruh murni dan setelah dibebaskan sama sekali dari ikatan fisik dari bentuk partikelnya menjadi dapat bergerak secara bebas.

Aspek gelombang dari manusia telah dikaruniakan kepada semua manusia. Namun kecuali anda bisa mengaktifkan aspek itu, anda tidak dapat mememanfa’atkan itu. Para awliya itu yang telah mengaktifkan aspek itu, dapat “memadamkan para pengamat” membuat mereka dapat bergerak sebagai sebuah gelombang, dan dalam mendapatkan aspek cahaya mereka itu, mencapai keberadaan yang tidak bergantung waktu – hadir pada setiap saat dan setiap tempat yang telah dicapai ciptaan itu sejak awal nya pada Ledakan Agung.

Haqiqat al-jazba – kekuatan tarikan
Ketika anda merasa sedang diamati, dan anda menoleh dan mendapati seseorang sedang memandang anda, itu artinya bahwa spirit anda telah merasakan semacam gangguan. Indera spirit yang sedang ditarik atau ditolak ini dirasakan oleh semua orang. Beberapa spirit adalah mutajaniseen dan beberapa lainnya adalah mutanafireen – anda bertemu seseorang dan segera anda merasa ditolak atau ditarik.

Al-arwaahu junudan mujanada.
Sebagaimana dalam istilah fisik, kita mengenali orang yang gemuk dan orang yang kurus, dan masing masing memiliki massa yang berbeda, mengeluarkan gaya gravitasi, spirits juga memiliki dimensi – massa spiritual. Jadi ada spirit yang “gemuk” dan ada spirits “kurus”. Apabila seorang Shaykh telah dikaruniai haqiqat al-jazba, massa spiritualnya menjadi sangat besar. Sebagaimana dalam istilah fisik, diperlihatkan bahwa sebuah lubang hitam, yang adalah sebuah obyek yang masif yang telah menjadi begitu padat sehingga bahkan gelombang cahaya pun tak dapat lepas dari sedotannya, jadi seperti halnya gravitasi sebuah lubang hitam, (yang) akan menerapkan sebuah kekuatan tarikan dahsyat dan menyebabkan spirit lain di sekitarnya tersedot olehnya.

 Ejowantah/manifestasi luar nya adalah bahwa seseorang yang jatuh dalam pengaruh tarikan akan tertarik untuk duduk bersama Shaykh atau mulai bertanya tanya kepada murid Shaykh “siapakah dia? Apa yang diajarkan?” dan seterusnya.

Atau kita bahkan bisa melihat bahwa seseorang, setelah bertemu Shaykh dalam perjalanan, dalam 10 atau 15 menit mengucapkan shahadat dan masuk jalan Islam.

Shaykh yang dikaruniai dengan haqiqat al-jazba, dapat melipat-gandakan pemahamn anda. Dia mampu merangsang “electrons” anda dari level satu ke level dua dalam level quantum. Itulah apa yang menyebabkan “stimulasi” dari orang yang tertarik.

Itulah sebabnya ketika seseorang duduk dalam hadirat seorang Shaykh, bahkan jika dia tidak bercakap cakap atau berkomunikasi, dia merasa bersemangat dan aktif. Ini adalah efek dari energi spiritual nya pada “electrons” tubuh spiritualnya.

Seringkali ini dialami oleh si murid : dia mendatangi Shaykh dengan sebuah qalbu yang berat karena sedang mengalami cobaan atau ujian. Segera sesudah berada dalam hadirat Shaykh spirits nya terangkat dan dia merasa bebannya terangkat. Begitu dia meninggalkan hadiratnya itu, beban itu kembali, meskipun saat itu mereka mungkin merasa lebih ringan.

Ini dapat dibandingkan dengan efek dari polarizer yang ditempatkan di percobaan calcite crystal. Ketika sebuah polarizer terbalik dipasang, sekonyong konyong partikel itu berubah ke sifat gelombang. [complex]

Ketika seorang Shaykh memegang haqiqat al-jazba, shaykh itu terus menerus memancarkan energi atau pikiran positif.

Nama Nama
Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam (as) di Langit (Surga) dan mereka patuh. Adalah sangat menantang untuk memahami percakapan yang muncul antara Allah dan para malaikat pada saat Allah menciptakan Nabi Adam (as).

Para malaikat, karena keingin-tahuan atau mungkin kekhawatiran, dan Allah Maha Tahu, bertanya kepada Allah apakah Dia sedang menciptakan sesuatu yang akan membuat korupsi di bumi dan menumpahkan darah, sementara pada sisi lain mereka selalu menyanyikan pepujian bagi Nya? Dan Allah, dalam jawaban Nya, memberi sebuah kunci (isyarat) tentang mengapa fadl itu, khususiyya itu dikaruniakan kepada Nabi Adam (as). Dia menjawab, “innee `aalamu ma la ta`alamun.” – “ Aku Tahu yang tidak kamu ketahui.” Ketika Allah mengatakan ini, Dia maksudkan, wallahu `aalam, “Aku menganugerahkan dari ‘yang Aku tahu’ (innee `aalamu) kepada Nabi Adam as – dan pemberian itu kalian para malaikat tidak memilikinya (ma la ta`alamun).”

Ini yang diperagakan Nabi Adam a.s. secara meyakinkan kepada para malaikat, ketika atas perintah Allah, dia mengungkapkan Nama Nama itu. Awliya mengatakan nama nama itu bukanlah nama dari ciptaan Allah, satu demi satu. Namun mereka adalah Nama Nama yang menjadi sumber dari ciptaan Allah itu, karena sebagaimana Mawlana mengatakan, “setiap ciptaan memiliki Nama Ilahiah nya yang khusus dan unik miliknya, tidak miliki bersama dengan ciptaan lainnya– siffat, bi la sharik.” Itu adalah Nama Ilahiah yang memberi setiap benda khas, keberadaannya. Nama Nama ini bukanlah dari Dzat Nya, karena tak satupun ciptaan dapat memuat satu aspek dari Dzat Nya, namun dari Uraian dan Busana / Attributes (asma’I was-siffat).

Para malaikat pada sisi lain, kehilangan kata kata untuk diucapkan (tentang) apa Nama Nama itu dan mengaku: qalu la `ilma lana illa ma `alamtana, innaka anta as-sami`ul `alim. Mereka tidak memiliki ilmu tentang aspek ciptaan yang ini– Nama Ilahiah di belakang setiap ciptaan.

Setiap ciptaan menjadi ada di bawah cahaya dari Nama Ilahiah. Apakah identitas itu? Dari mana itu datangnya? Kita merasa kita adalah diri kita, lokasi kita, kesadaran kita ada di dalam otak kita. Kesadaran kita datang dari apa? Kita menjadi sadar melalui pengenalan – hubungan kita dengan sekitar kita. Ini mulai berdampak pada kita ketika kita dilahirkan– sekonyong konyong indera kita mulai bekerja. Bayi tidak memiliki indera tentang diri, namun telinga, mata, lidah, inderanya sedang diisi dengan data, informasi setiap saat.

Mawlana menjelaskan bahwa bayi tidak memiliki diri : dia masih berada dalam Hadirat Ilahi. Itu artinya bayi itu tidak membedakan keberadaannya dari ciptaan. Dia masih menerima informasi melalui dimensi spiritual nya. Dia sedang hidup dalam Bahr al-rahma dari Allah Kasih Ilahi.

Catatan tentang Chaya dan Fisika dari Cahaya
Diambil dari God at the Speed of Light oleh T. Lee Baumann, MD.

PERLUKAH KITA MENGKONSUMSI MSG

MSG merupakan kependekan dari salah satu jenis asam aminomonosodium glutamat atau mononatrium glutamate. Secara alami asam glutamate merupakan asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk protein dan merangsang saraf pada indra pengecap. Asam amino sendiri merupakan senyawa penyusun protein bagi tubuh . Dan asam glutamate merupakan asam amino non-essensial yan
g berarti jenis asam amino ini dapat diproduksi oleh tubuh secara alami, dan asam glutamate alami yang terdapat pada tanaman dan hewan hanya merupakan tambahan saja untuk tubuh kita. Hal inilah yang melatarbelakangi menkonsumsi MSG secara terus menerus memberikan efek yang kurang baik bagi tubuh.


MSG sebenarnya merupakan salah satu jenis asam amino non-esensial yang jumlahnya sangat melimpah di alam. MSG atau asam glutamate secara alami sebenarnya banyak terkandung pada beberapa tanaman, daging hewan, ganggang laut, rumput laut, serta ikan. Dimana makanan tersebut akan memberikan flavor gurih dan sedap ketika kita masak secara alami meskipun tanpa menggunakan bumbu apapun.


Namun karena MSG atau asam glutamate yang terkandung secara alami tersebut dinilai tidak memberikan hasil yang sempurna untuk kepentingan manusia, maka asam glutamate tersebut diisolasi dan diproses sedemikian rupa sehingga berubah menjadi garam glutamate yang biasa disebut MSG, vetsin, penyedap rasa, atau nama yang lain.


Jadi, MSG yang beredar dipasaran dan yang sering kita konsumsi merupakan hasil olahan industry yang telah mengalami berbagai proses dan penambahan zat kimia lain, dimana hal ini pasti akan merubah struktur dari asam glutamate itu sendiri, dan akhirnya akan menghasilkan zat baru yang merupakan MSG sintetis, atau lebih sering kita kenal dengan MSG, vetsin, penyedap rasa, mecin atau yang lainnya.


Saat ini bahan baku yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan MSG adalah adalah molasses yang berasalh dari tetes tebu. Molasses kemudian mengalami berbagai macam proses seperti fermentasi serta hidrolisis yang panjang dengan melibatkan bakteri dan zat-zat kimia lain yang dapat mendukung proses tersebut hingga dihasilkan MSG dalam bentuk kristal. Proses pembuatan MSG yang panjang ini dapat menjadikan flavor MSG lebih gurih dan lebih disukai masyarakat daripada kandungan glutamate secara alami pada hewan maupun tanaman. Dan ini menyebabkan banyak masyarakat yang menggunakan MSG pada makanan yang mereka konsumsi sehari-hari, karena selain memberikan rasa gurih, harga dari MSG yang beredar di pasaran juga cukup murah.


Konsumsi MSG sintetis yang beredar di pasaran secara terus menerus tentu akan menimbulkan efek samping bagi tubuh. Hal ini karena MSG sintetis yang banyak beredar di pasaran pada dasarnya adalah zat asing bagi tubuh, karena sudah mengalami modifikasi dari asam glutamate alami, dimana hal ini akan memicu tubuh untuk melawan zat asing ini dan cenderung menganggapnya sebagai musuh bagi tubuh.


Banyak pro kontra terkait penggunaan MSG, MSG aman ketika penggunaannya dibatasi dan tidak digunakan terus menerus. Ketika system kekebalan tubuh seseorang itu baik, masuknya MSG dalam tubuh tidak akan menimbulkan reaksi, namun ketika konsumsi MSG secara terus menerus makan lama-kelamaan pasti akan direspon oleh tubuh dan dapat menimbulkan efek negatif bagi fungsi metabolisme tubuh yang lain. Efek negative ini memang lebih sering bersifat akumulasi dan baru kelihatan setelah penggunaan beberapa tahun kemudian, namun dampaknya pun juga fatal bagi tubuh. Efek paling ringan yang dapat timbul misalnya alergi, karena tubuh sensitif terhadap benda asing sehingga menimulkan reaksi alergi, sedangkan efek jangka panjang tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan mutasi sel dalam tubuh, dimana mutasi sel ini menjadi pemicu timbulnya kanker.


Jadi ketika anda masih mengkonsumsi MSG, lebih baik mulai batasi penggunaannya, dan ketika anda tidak menggunakan MSG itu jauh lebih baik.

DIALOG JENIUS SEORANG MAHASISWA DENGAN SEORANG PROFESSOR

Dalam sebuah perkuliahan terjadi dialog antara seorang professor sebagai dosen dan mahasiswanya, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?” “Apakah kejahatan itu ada?” “Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?”

Seorang Professor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan p
ertanyaan ini.


“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”


Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Beliau yang menciptakan semuanya”.


“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya sang professor sekali lagi.


“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.


Professor itu menjawab,


“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip agama bahwa Tuhan ada dalam diri setiap kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan?”


Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.


Professor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.


Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Professor, boleh saya bertanya sesuatu?”


“Tentu saja,” jawab si Professor


Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Professor, apakah dingin itu ada?”


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.


Mahasiswa itu menjawab,

“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.


Suhu -460F (0 derajad Celcius) adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”


Mahasiswa itu melanjutkan, “Professor, apakah gelap itu ada?”


Professor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”


Mahasiswa itu menjawab,

“Sekali lagi anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari namun gelap tidak.”


“Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.”


“Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap."


"Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap sesungguhnya dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”


Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Professor, apakah kejahatan itu ada?”


Dengan bimbang professor itu menjawab,

“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”


Dengan penuh keyakinan mahasiswa tadi kembali menjawab.


“Sekali lagi Anda salah, Professor !!!"


"Kejahatan itu tidak ada !!"


"Kejahatan sesungguhnya terjadi karena ketiadaan Tuhan dalam diri kita"


"Seperti juga dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan dalam dirinya.”


“Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”


Professor itupun terdiam tanpa bisa berkata apapun.


Dan mahasiswa itu adalah, ……….??????
 
 Albert Einstein

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Education Of Lemurian - All Rights Reserved
Template Modify by Education of Lemurian
Proudly powered by Blogger